Rabu, 30 November 2011

ES-F: Kemiskinan dan Kesenjangan Pendapatan

Downloaad di sini

ES-F: Kemiskinan

Download di sini

ES-F: Pembangunan Daerah

Download di sini

ES-D: Permintaan Uang Riil dan Nominal


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Uang merupakan objek pertama yang akan dibahas dalam msalah ekonomi dimana uang adalah suatu alat transaksi yang digunakan oleh setiap manusia untuk menjalani kehidupannya. Dalam berbagai aspek terdapata banyak macam transaksi keuangan diantaranya ialah pasar uang.
Sekarang tibalah kita memulai mencoba apa yang kita sebut dengan pasar uang, sekalipun untuk sementara baru garis besarnya saja, dengan maksud memperoleh gambaran yang diperlukan utntk dapat menurunkan kurva LM. Sama dengan pasar lainnya, pasar uang dari segi tinjauan kita terdiri dari permintaan dan penawaran. Uintuk lebih jelasnya, maka simaklah pembahasan makalah yang telah kami susun ini
1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana permintaan akan uang riil dan nominal ?
  2. Bagaimana permintaan akan uang ?
  3. Bagaimana penawaran uang, keseimbangan pasar uang dan kurva LM ?
  4. Bagaimana Keseimbangan Pasar Barang dan Modal ?
  5. Bagaimana Perubahan Tingkat Keseimbangan Pendapatan dan Suku Bunga ?
  6. Bagaimana Penyesuaian Terhadap Keseimbangan ?
  7. Bagaimana Penyesuaian Pasar Modal yang Cepat ?








BAB II
PEMBAHASAN



2.1 Permintaan Akan Uang Riil dan Uang Nominal

     Pada tahap ini harus mempertegas perbedaan penting antara variabel riil dan nominal. Permintaan nominal akan uang adalah permintaan individu atas sejumlah uang, dan sama dengan itu, permintaan nominal atas obligasi adalah permintaan individu atas sejumlah obligasi seharga tertentu. Permintaan riil akan uang adalah permintaan akan sejumlah uang yang dinyatakan dalam bentuk unit barang yang dapat dibeli dengan uang tersebut; ini sama dengan permintaan nominal akan uang dibagi dengan tingkat harga. Bila permintaan akan uang adalah adalah $ 100  sedangkan tingkat harga adalah $2 per unit barang – maka permintaan riil akan uang adalah 50 barang. Bila tingkat harga kemudian naik menjadi $4, dan permintaan akan uang naik menjadi $200, maka permintaan riil akan uang tidak berubah pada 50 barang.
            Saldo uang riil atau saldo riil adalah kuantitas dari uang nominal dibagi dengan tingkat harga, dan permintaan riil akan uang disebut permintaan saldo riil. Sejalan dengan itu, pemilikan obligasi riil adalah kuantitas nominal dari obligasi dibagi dengan tingkat harga.
            Kendala anggaran kekayaan dalam pasar modal menyatakan bahwa jumlah permintaan atas saldo riil, yang disimbolkan dengan L. plus permintaan akan pemilikan obligasi riil, yang disimbolkan dengan DB, harus sama dengan total kekayaan finansial riil dari individu tersebut. Kekayaan finansial riil adalah kekayaan nominal, WN, dibagi dengan tingkat harga P :
L + DB = WN
               P
Cacat kembali bahwa kendala anggaran kekayaan menyiratkan, berdasarkan kekayaan riil seorang individu, bahwa  keputusan untuk memegang lebih banyak saldo riil juga merupakan keputusan untuk memegang lebih sedikit kekayaan riil dalam bentuk obligasi. Imlikasi ini ternyata sangat penting dan memudahkan karena akan memungkinkan kita untuk membahas pasar modal sepenuhnya dalam pasar uang. Ketika pasar uang berada dalam situasi keseimbangan, pasar obligasi ternyata juga akan berada dalam keseimbangan yang sama.
            Jumlah keseluruhan dari kekayaan keuangan riil dalam perekonomian terdiri dari saldo uang riil dan obligasi riil yang tersedia, Dengan demikian kekayaan keuangan riil seluruhnya sama dengan :

WN = M + SB
                                                              P       P

Di mana M merupakan cadangan dari saldo uang nominal dari (SB) aalah nilai riil dari penawaran obligasi.


2.2 Permintaan Akan Uang            

Kita sekarang akan beralih untuk membahas masalah pasar uang. Pada bagian awal ini, kita mula – mula memusatkan perhatian pada permintaan akan saldo riil.[1] Permintaan akan uang adalah untuk memperoleh barang – barang yang dapat dibeli dengan uang tersebut. Semakin tinggi tingkat harga, semakin besarlah jumlah yang perlu dipegang untuk memperoleh sejumlah barang dan jasa tertentu. Bila harga – harga naik dua kali lipat, maka untuk memperoleh jumlah barang yang sama, diperlukan uang sebanyak dua kali lipat dari sebelumnya.
            Permintaan akan saldo riil tergantung pada tingkat pendapatan riil dan suku bunga. Ia tergantung pada pendapatan riil karena individu memegang uang adalah untuk membiayai semua jenis pengeluaranya, yang pada giliranya tergantung pada pendapatan. Selanjutnya, ia tergantung juga pada ongkos atau resiko memegang uang. Ongkos memegang uang adalah jumlah bunga yang diterima oleh ini seandainya uang tersebut di depositokan pada sebuah bank. Semakin tinggi tingkat suku bunga, semakin besarlah biaya atau ongkos memegang uang ketimbang memegang jenis – jenis modal lainya, dan sebaliknya, semakin kecillah jumlah uang tunai yang dipegang oleh individu pada setiap tingkat pendapatan. [2] Ketika suku bunga naik, individu dapat memperoleh keuntungan dari pemilikan uang tunai dengan cara berhati – hati mengelola uang mereka dan mulai membeli obligasi bila jmlah uang yang mereka pegang sudah mencapai jumlah uang yang memadai. Bila suku bunga Cuma 1%, maka keuntungan untuk memegang saham atau obligasi sangat kecil dibandingkan dengan memegang uang tunai.
            Tetapi bila suku bunga mencapai 10%, maka orang tidak perlu memegang uang lebih dari kebutuhan untuk membiayai kehidupan sehari – hari .
            Atas dasar pemikiran yang sederhana ini, maka permintaan akan saldo riil naik bersamaan dengan jatuhnya tingkat suku bunga. Perminaan saldo riil dinyatakan sebagai berikut : [3]
                                   L = KY – hi     k , h > 0                                       (10)

Parameter k dan h mencerminkan kepekaan permintaan akan saldo riil terhadap tingkat pendapatan dan suku bunga. Kenaikan pendapatan sebesar $5 akan menaikkan permintaan akan uang sebesar 5 K  dolar riil. Kenaikan  suku bunga sebesar 1% akan menurunkan permintaan akan uang sebesar 1h dolar riil.
            Fungsi permintaan saldo riil, persaman (10), menyiratkan bahwa untuk tingkat pendapatan tertentu, jumlah yang diminta fungsi yang menurun dari suku bunga. Kurva yang demikian diperlihatkan dalam gambar 4 – 8 untuk tingkat pendapatan Y1. Semakin tinggi tingkat pendapatan, semakin tinggilah permintaan akan saldo riil, dan karenanya, semakin kekanan kurva permintaan dimaksud. Kurva permintaan untuk tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Y2, juga disajikan dalam gambar 4 – 8 tersebut.
                                                                                                           
2.3 Penawaran Uang, Keseimbangan Pasar Uang dan Kurva LM
           
Sekarang kita akan membahas masalah keseimbangan dalam pasar uang, untuk tujuan dimaksud, kita harus menegaskan bagaimana penawaran uang ditentukan. Kuantitas minimal dari uang, M, dikendalikan oleh bank sentral, dan kita menganggapnya sebagai sudah tetap pada tingkat M. kita juga beranggapan bahwa tingkat harga adalah konstan pada tingkat P, Sehingga penawaran uang riil berada pada tingkat M/P. [4]

[Permintaan akan saldo riil sebagai fungsi suku bunga dan tingkat pendapatan. Permintaan akan saldo riil digambarkan dengan fungsi suku bunga. Pada tingkat pendapatan tertentu, semakin tinggi suku bunga, semakin rendahlah permintaan akan saldo riil. Kenaikan tingkat pendapatan menambah akan uang. Ini diperlihatkan oleh pergeseran skedul permintaan akan uang ke sebelah kanan].

            Dalam gambar 4 – 9, kita memperlihatkan kombinasi dari suku bunga dan tingkat pendapatan, sehingga permintaan akan saldo riil adalah sama besarnya dengan jumlah uang yang tersedia. Berangkat dari tingkat pendapatan Y1, kurva permintaan akan saldo riil yang bersesuaian , L1, diperlihatkan dalam gambar 4 – 9 a. seperti hanya dalam gambar 4 – 8 , ia dilukiskan sebagai fungsi yang menurun dari tingkat suku bunga, penawaran saldo riil yang berlaku sekarang, M/P, diperlihatkan oleh garis vertikal, karena ia sudah tertentu, dan karenanya bebas dari fluktuasi suku bunga. Suku bunga, i1,memiliki ciri bahwa ia menyeimbangkan pasar uang. Pada tingkat suku bunga seperti itu, permintaan akan saldo riil adalah sama dengan penawaranya. Dengan begitu, E1 adalah titik keseimbangan pasar uang. Titik tersebut di catat dalam gambar 4 – 9 a. sebagai titik pada skedul keseimbangan uang,atau kurva LM.
            Selanjutnya, perhatikanlah pengaruh dari kenaikan pendapatan ke Y2 . Dalam gambar 4 – 9 b, tingkat pendapatan yang lebih tinggi menyebabkan permintaan terhadap saldo riil menjadi lebih tinggi pada setiap suku bunga yang berbeda, dan karenanya, kurva permintaan terhadap saldo riil bergeser kesebelah kanan atas, menuju titik L2. Suku bunga naik i2 guna mempertahankan keseimbangan pasar uang pada tingkat suku bunga yang lebih tinggi tersebut. Sebaliknya, titik keseimbangan yang baru adalah E2, sebagai titik keseimbangan pasar uang. Dengan memberlakukan hal yang sama pada semua tingkat pendapatan. Kita akan menghasilkan sejumlah titik yang dapat dihubungkan dalam rangka membentuk skedul LM.
Skedul LM atau skedul keseimbangan pasar uang memperlihatkan kombinasi dari suku bunga dan tingkat pendapatan sehingga permintaan terhadap saldo riil adalah sama dengan penawarannya. Di sepanjang skedul LM, pasar uang berada pada situasi keseimbangan.


[Derivasi Kurva LM. Panel disebelah kanan memperlihatkan pasar uang penawaran saldo riil adalah garis vertikal. Penawaran uang nominal M adalah ditentukan oleh Bank Sentral, sedangkan tingkat harga P dianggap sudah tertentu. Kurva-kurva permintaan uang, L1 dan L2, bersesuaian dengan tingkat pendapatan adalah Y1, maka yang berlaku adalah L1, sedangkan suku bunga keseimbangan adalah i1. Ini menciptakan titik E1 pada skedul LM pada panel (a). pada tingkat pendapatan Y2, yang lebih besar dari Y1, tingkat suku bunga keseimbangan adalah i2, yang melahirkan titik E2 pada kurva LM].
Kurva LM memiliki kemiringan positif. Kenaikan suku bungan akan menurunkan permintaan saldo riil. Untuk mempertahankan agar tingkat permintaan saldo riil bisa asama dengan tingkat penawaran tetap, pendapaatan harus ditingkatkan. Sebaliknya, keseimbangan pasar uang menyiratkan bahwa kenaikan suku bunga terjadi bersamaan dengan naiknya tingkat pendapatan.
Kurva LM dapat ditarik secara langsung dengan cara menggabungkan kurva permintaan saldo riil, persamaan (10) dengan penawaran tetap saldo riil. Agar pasar uang berada dalam situasi keseimbangan, permintaan harus sama dengan penawaran atau[5]:
                                    M = kY – hi                (11)
                                                P
Untuk memecahkan masalah tingkat,  suku bunga digunakan:
                                    I =  I (kY – M )                       (11a)
                                           h          P
selanjutnya kita mempertanyakan hal-hal yang sama mengenai ciri-ciri skedul LM  cara yang sama ketika membahas masalah kurva IS.

Kemiringan kurva LM
            Semakin besar kepekaan permintaan akan uang terhadap pendapatan sebagaimana diukur dengan k, dan semakin rendah kepekaan akan uang terhadap suku bunga, sebagai mana diukur dengan h, maka semakin curamlah bentuk kurva LM. Hal ini dapat ditetapkan dengan melakukan eksperimen pada gambar 4-9. Hal ini juga dapat dikonfirmasikan dengan mengamati persamaan (11a), dimana suatu perubahan tertentu pada pendapatan Y mempunyai dampak yang lebih besar terhadap suku bunga i , semakin besar k dan semakin kecil h, jika permintaan akan uang secara relatif tidak sensitif terhadap suku bunga, sehingga h hampir mendekat nol, kurva LM hampir vertikal. Jika permintaan uang sangat sensitif terhadap suku bunga, sehingga h nenjadi besar, maka kurva LM mendekati horizontal. Dalam hal tersebut, perubahan yang kecil pada suku sunga akan disertai dengan perubahan yang besar pada tingkat pendapatan agar ekuilibrium pasar uang agar tetap bertahan.
            Penawaran uang riil dipertahankan konstan disepanjang kurva LM. Ini berarti bahwa perubahan uang riil akan menggeser kurva LM. Pada gambar 4-10, kita perlihatkan pengaruh kenaikan penawaran uang riil. Pada gambar 4-10b, kita melukiskan permintaan akan saldo uang riil pada tingkat pendapatan Y. dengan penawaran uang riil yang mula-mula M/P, ekuilibriumnya berada pada titik E1 dengan suku bunga i1. Titik yang bersesuaian pada skedul LM adalah E1.
            Perhatikanlah pengaruh dari kenaikan penawaran uang riil ke M/P, yang dirujuk dengan pergeseran dengan skedul penawaran uang kesebelah kanan. Pada tingkat pendapatan awal dan karenanya, pada skedul permintaan L1, sekarang terdapat kelebihan penawaran saldo riil. Untuk mengembalikan keseimbangan pasar uang pada tingkat yang baru berada pada titik E2. Ini menyiratkan bahwa pada gambar 4-10a, skedul LM bergeser kesebelah kanan dan turun ke titik LM. Pada setiap tingkat pendapatan, suku bunga keseimbangan harus lebih rendah sehingga dapat mendorong orang untuk memegang jumlah uang riil dalam jumlah yang lebih besar. Kemungkinan lainnya, pada setiap tingkat suku bunga, tingkat pendapatan harus lebih tinggi sehingga mendorong naik transaksi permintaan akan uang, dan karenanya, akan menyerap peredaran yabg sangat tinggi dari uang riil. Noktah ini dapat jugadilihat dari pengamatan terhadapn kondisi keseimbangan pasar uang yang tercermin dalam persamaan (11).

Posisi-posisi diluar kurva LM
            Selanjutnya, kita akan mempertimbangkan titik-titik yang berada diluar skedul LM, untuk mencirikannya sebagai titik-titik dari kelebihan permintaan atau penawaran uang. Untuk keerluan dimaksud, perhatikanlah gambar 4-1, yang dicetak ulang dari gambar 4-9, tetapi dengan menambahkan titik keseimbanagn E3 dan E4. Pertama-tama perhatikan titik-titik E1[6]. Dimana pasar uang berada dalam situasi keseimbangan . kemudian, asumsikanlah adanya kenaikan tingkat pendapatan ke Y2. Ini akan mendorong permintaan akan saldo riil keatas sembari menggeser kurva permintaan ke L2. Pada tingkat suku bunga yang mula-mula permintaan akan saldo riil yang ditunjukan oleh titik E4 dalam gambar 4-11b, dan kita akan mengalami kelebihan permintaan akan penawaran yang sama dengan jarak dari E1 dengan E4. Denagn hal ini, titik E4 pada gambar 4-11a merupakan titik kelebihan permintaan akan uang : suku bunga terlalu rendah atau tingkat pendapatan terlalu tinggi bagi pasar uang untuk bisa menyesuaikan diri. Selanjutnya, perhatikanlah titik E3 pada gambar 4-1b. disini kita mempunyai tingkat pendapatan awal Y1, tetapi disertai dengan tingkat suku bunga yang terlalu tinggi unttuk bisa mencapai keseimbangan pasar uang. Dengan sendirinya kita menghadapi masalah kelebihan penawaran uang yang sama dengan  jarak dari E3 ke E2. Titik E3 dalam gambar 4-11a, dengan demikian, bersesuaian dengan kelebihan penawaran uang.

[Kenaikan penawaran uang dari M ke M’ menggeser kurva LM ke sebelah kanan. Kenaikan cadangan saldo riil menggeser skedul penawaran pada panel sebelah kanan dari M/P ke M’/P. pada tingkat pendapatan awal, Y1, suku bunga keseimbangan dalam pasar jatuh ke titik 12. Pada panel bagian kiri, kita memperlihatkan titik E2 sebagai satu titik pada skedul LM yang baru, yang bersesuaian dengan cadangan uang yang lebih tinggi. Dengan demikian, kenaikan cadangan uang yang lebih tinggi. Dengan demikian, kenaikan cadangan uang menggeser skedul LM ke sebelah kanan bagian bawah][7].

Secara umum, setiap titik disebelah kiri atas dari kurva LM adalah titik – titik kelebihan permintaan akan uang, dan setiap titik di sebelah kkiri atas dari kurva LM adalah titik – titik kelebihan penawaran. Ini ditunjukkan oleh notasi EDM dan ESM pada gambar 4-11a.

[Kelebihan permintaan (EDM=excess demand of money) dan penawaran (ESM=excess supply of money) akan uang. Titik-titik disebelah kiri atas skedul LM bersesuaian dengan kelebihan penawaran saldi riil, titik-titik disebelah kanan bawah bersesuaina dengan kelebihan permintaan saldo riil. Dengan memulai dari titik E1 pada panel sebelah kiri, kenaikan pendapatan membawa kita pada titik E4. Pada titik E4 panel sebelah kanan terdapat kelebihan permintaan akan uang dan karenanya pada titik E4 panel bagian kiri, terdapat kelebihan permintaan akan uang].

2.4 Keseimbangan Pasar Barang dan Modal
           
Skedul IS dan skedul LM meringkas kondisi yang harus dipenuhi agar pasal barang dan pasar modal berada dalam situasi keseimbangan. Untuk tercapainya keseimbangan yang simultan dari keduanya, tingkat suku bunga dan tingkat pendapatan haruslah sedemikian rupa, sehingga pasar uang dan pasar barang berada dalam situasi keseimbangan. Kondisi yang demikian terpenuhi pada titik E dalam gambar 4-12. Tingkat suku bunga keseimbangan adalah 1 sedangkan pendapatan keseimbangan adalah Y, dengan catatan bahwa variable- variable eksogen, terutama penawaran uang riil dan kebijaksanaan fiskal adalah tertentu. Pada titik E, baik pasar barang maupun pasar modal berada dalam keseimbangan.
            Gambar 4-12 meringkas ananlisis kita; tingkat suku bunga dan output ditentukan oleh interaksi pasar- pasar modal (LM), dan pasar barang (IS). Ada baiknya kalau beralih sejenak untuk meninjau kembali asumsi- asumsi kita dan arti dari keseimbangan pada titik E. asumsi utamanya adalah baha tingkat harga adalah konstan dan bahwa perusahaan bersedia mrnawarkan produknya seberapa banyakpun pada tingkat harga tersebut. Dengan begitu, kita menganggap tingkat output dalam gambar 4-12 akan disediakan secara sukarela oleh perusahaan pada tingkat harga P. perlu ditegaskan kembali bahwa asumsi seperti ini kadangkala sangat diperlukan untuk mengembangkan analisis diatas, ia akan kita buang ketika kita mulai mendalami analisis diatas, ia akan kita buang ketika kita mendalami analisis di atas, ia akan kita buang ketika kita mulai mendalami factor-faktor yang menentukan tingkat harga pada Bab VII.
            Di titik E pada gambar 4-12, perekonomian berada dalam situasi keseimbangan, karena baik pasar barang maupun pasar uang berada dalam situasi keseimbangan juga. Permintaan akan barang sama dengan tingkat outputnya pada kurva IS. Dan pada kurva LM, permintaan akan uang sama dengan penawaran uang, ini uga berarti bahwa penawaran obligasi adalah sama dengan permintaannya. Dengan demikian, pada titik E, perusahaan memproduksi jumlah output yang mereka rencanakan sementara individu-individu memiliki kompoosisi portofolio yang mereka butuhkan.

[Keseimbangan Pasar Uang dan Pasar Modal, Pasar barang dan Pasar modal menyesuaikan diri kepada titik E. tingkat suku bungan dan pendapatan adalah sedemikian rupa sehingga masyarakat memegang jumlah uang yang ada dan pengeluaran yang terencana yang sama dengan output].

2.5 Perubahan Tingkat Keseimbangan Pendapatan dan Suku Bunga

Keseimbanga tingkat pendapatan dan tingkat suku bunga berubah ketika baik kurva IS maupun kurva LM mengalami pergeseran, gambar 4-13, misalnya, memperlihatkan pengaruh kenaikan dari tingkat investasi otonom terhadap tingkat pendapatan dan tingkat suku bunga. Peningkatan yang demikian cenderung mendorong pengeluaran otonom, A, ke atas, dan karenanya, menggeser kurva IS ke sebelah kanan, ini menyebabkan kenaikan tingkat pendapatan dan suku bunga ke titik E’.
Ingat bahwa kenaikan pengeluaran investasi otonom menggeser kurva IS kesebelah kanan sebesar jumlah bagaimana yang kitan saksikan pada Gambar 4-13 Dalam Bab III, dimana kita hanya membahas masalah pasar barang, kita seyogyanyatelah menegaskan bahwa akan merupakan perubahan dalam tingkat pendapatan yang disebabkan oleh perobahan dalam dalam pengeluaran otonom. Tetapi ini dapat dilihat Dalam Gambar 4-13 bahwa perubahan pendapatan disini hanyalah yang jelas kurang dari pergeseran dalam kurva
Apa yang menjelaskan fakta bahwa kenaikan pendapatan adalah lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan pengeluaran otonom, dikalikan dengan multiplier sederhana, secara diagramatis, jelas bahwa keterangannya dapat dilihat dari kemiringan kurva LM. Kalau kurva LM bersifat horizontal, tidak akan ada perbedaan antara luasnya kalau kurva LM bersifat horizontal, maka suku bungan tidak akan berbeda  bila kurva IS bergeser[8].
Bagaimanakah makna ekonomis dari semua kejadian tersebut. Kenaikan pengeluaran otonom memang cendrung meningkatkan pendapatan. Tetapi kenaikan pendapatan juga juga menaikkan permintaan terhadap uang, bila penawaran uang adalah tertentu, tingkat suku bunga harus naik untuk menjamin agar permintaan uang tetap sam pada tingkat penawarannya yang tetap. Bila suku bunga naik, pengeluaran investasi menurun karena investasi berhubungan secara negatif dengan tingkat suku bunga. Sejalan dengan itu, perubahan keseimbangan dalam pendapatan adalah kurang dari pergeseran horizontal kurva IS
Sampai disini, kita telah menyajikan contoh dari penggunaan kelengkapan IS-LM. Kelengkapan yang demikian sangatlah berguna untuk mempelajari masalh pengaruh kebijakan moneter dan fiscal terhadap tingkat suku bunga dan pendapatan. Dan kita menggunakannya dalam Bagian 4-5 dan 4-6 pada Bab V. sebelum melakukannya, betapapun kita perlu membahas bagaimana perekonomian bergerak dari satu sisi keseimbangan seperti titik E, menuju keseimbangan yang lain, seperti titik E.

2.6 penyesuaian Terhadap Keseimbangan

Anggaplah bahwa perekonomian mulanya berada pada titik E dalam gambar 4-13, dan bahwa salah satu kurvanya bergeser, sehingga titik keeseimbangan yang baru berada pada titik semisal E’. bagaimanakah titik keseimbangan yang baru tersebut dicapai? Penyesuaian akan melibatkan perubahan dalam tingkat suku bunga dan pendapatan. Untuk mempelajari cara bagaiman ia bergerak sepanjang waktu, kita menurunkan dua asumsi dasar
1.      Output naik setiap kali kelebihan permintaan barang dan akan turun ketika terjadi kelebihan penawaran barang, asumsi ini mencerminkan penyesuaian dari perusahaan terhadap langkah-langkah yang tak dikehendaki berkenan dengan penimbunan dan pengurangan persediaan.
2.      Tingkat suku bunga naik bila terjadi kelebihan penawaran uang. Penyesuaian ini terjadi karena kelebihan permintaan uang menyiratkan adanya kelebihan penawaran jenis-jenis modal lainnya (obligasi). Dalam usahanya untuk memperoleh lebih banyak uang, orang cendrung melepaskan obligasi yang mereka pegang, yang ahkirnya menyebabkan turunnya harga obligasi dimaksud atau hasil pengembalian (suku bunga) naik.

2.7 Pengaruh Kenaikan Pengeluaran Otonom, Terhadap pendapatan dan Suku Bunga
            Kenaikan pengeluaran otonom menggeser suku bunga, kenaikan pengeluaran otonom menggeser skedul IS ke bagian kanan luar. Pendapat naik, dan tingkat keseimbangan pendapatan naik juga, lenaikan tingkat pendapatan adalah lebih kecil dari apa yang diperlihatkan oleh multiplier sederhana, ini terjadi karena suku bunga menaikkan dan pembahasan yang lebih rinci tentang hubungan antara harga obligasi dengan hasil pengembaliannya ditampilkan dalam Lampiran Bab IX.
Di sini mita hanya menyakan penjelasan ringkas tentangnya. Untuk kesederhanaan, asumsikanlah obligasi yang berjanji membayar para pemegang obligasi dimaksud $5 pertahun untuk selamanya. %5 tersebut dikenal dengan sebutan kupon sedangkan obligasi yang berjanji untuk membayar selamanya sejumlah tertentu kepada para pemegang disebut sebagai perpetuitas. Bila hasil pengembalian dari bentuk-bentuk modal lainnya adalah 5% maka pertuitas tersebut akan laku seharga $100 karena pada tingkat harga sebesar itu , ia juga akan membuahkan hasil sebesar 5% ($5/ $100). Sekarang anggaplah bahwa hasil dari modal lainnya naik menjadi 10%. Maka harga dari pertuitas dimaksud akan menjadi $50, karena hanya pada tingkat harga demikianlah ia akan member hasil sebesar 10%, yakni bunga sebesar $5 per tahun atas obligasi senilai $ 50 akan memberikan hasil kepada pemegangnya sebesar 10%dari investasi sebesar %50. Contoh ini memperjelas bahwa hasil obligasi daan hasil pengembaliannya adalah berbanding terbalik, tidak sesuai dengan kupon.
Dalam asumsi yang kedua tersebut diatas, kita menganggab bahwa kelebihan permintaan akan uang menybabkan pemegang modal berusaha menjual obligasi mereka, yang ahkirnya menyebabkan harga obligasi menurun dan hasil pengembaliannya mengalami kenaikan. Sehubungan dengan itu, bila terjadi kelebihan penaaran uang, orang akan berusaha menggunakan uangnya untuk membeli jenis-jenis modal lainnya, yang pada ahkirnya membuat hasil pengambaliannya mengalami penuruna.
Dalam Gambar 4-14 kita menerapkan analisis tersebut utuk membahas penyesuaian ekonomi. Empat wilayah ditampilkan, dan semuanya di tandai dalam Tabel 4-1. Dari gambar 4-11 kita mengetahui bahwa terdapat kelebihgan penawaran uang di atas kurva LM, dan karenanya, kita perlihatkan ESM (excess supplay of money) pada wilayah I dan II pada Table 4-1. Sejalan dengan itu, kita juga mengetahui bahwa kurva IS, karenanya, kita perlihatkan EDG (excess demand for goods) pada wilayah II dan III pada table 4-1, anda mesti dapat menjelaskan butir-butir (entries) yang selebihnya dari Table 4-1.
Arah dari penyesuaian yang dirincikan dalam asumsi 1 dan 2 di atas ditampilkan dengan tanda panah. Dengan demikian, misalnya di wilayah IV kita mengalami kelebihan permintaan akan uang yang menyebabkan suku bunga naik karena jenis-jenis modal lainnya dijual secara besar-besaran untuk memperoleh uang tunai, yang ahkirnya menyebakan harga turun. Tingkat suku bunga yang menaik disajikan oleh tanda panah yang mengarah ke atas. Juga terjadi kelebihan penawaran barang dalam wilayah IV. Dan karenanya, terjadilah penimbunan barang secara tidak dikehendaki, yang menyebabkan perusahaan berusaha mengurangi output. Output yang menurun ditandai oleh tanda panah yang mengarah ke sebelah kiri. Penyesuaian yang diperlihatkan oleh tanda panah tersebut ahkirnya akan mengarah, mungkin dalam pola-pola yang siksikal, ke titik keseimbangan E. misalnya, mulai dari titik E kita memperlihatkan bahwa perekonomian bergerak kea rah titik , dengan pendapatan dan suku bunga meningkatkan di sepanjang jalur penyesuaian yang diperlihatkan.

            [Ketidakseimbangan dan Dinamika Pasar Barang dan Pasar Uang. Pendapat dan suku bunga menyesuaikan diri pada ketidakseimbangan dalam pasar uang dan pasar barang. Secara lebih khusus, suku bunga turun bila terjadi kelebihan permintaan. Pendapatan naik bila permintaan agregat terhadap barang-barang melebihi output dan turun bila permintaan agregat kurang dari output. Sepanjang waktu, system tersebut menyatu ke titik keseimbangan pada titik E].

2.7 Penyesuaian Pasar Modal Yang Cepat
Unuk berbagai tujuan, ada gunanya membatasi dinamika melalui asumsi yang mengatakan bahwa pasar uang menyesuaikan diri dengan sangat cepat sedangkan pasar barang melakukan hal yang samadengan sedikit agak lambat. Karena pasar uang dapat menyesuaikan diri semata –mata melalui pembelian dan penjualan obligasi, suku bunga menyesuikan diri dengan sangat cepatdan pasar uang selalu secara efektif berada dalam situasi keseimbangan asumsi. Asumsi yang demikian meniratkan bahwa kita selalu berada dalam kurva LM. Setiap penyelewengan dari titik keseimbangan dalam pasar uang cendrung dihilangkan segera oleh perubahan yang memadai dalam tingkat suku bunga. Dalam situasi ketidakseimbangan, kita bergerak disepanjang kurva LM, sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 4-15.
Pasar barang menyesuaikan diri relative lebih lambat karena perusahaan harus mengubah skedul produksi mereka, yang tentu membutuhkan waktu. Untuk titik kurva IS, kita bergarak ke atas disepanjang skedul LM dengan tingkat suku bunga dan pendapatan yang meningkat, dan untuk titik-titik di atas skedul IS. Kita bergerak ke bawah di sepanjang skedul LM dengan tingkat output dan suku bunga yang menurun hingga depan tercapainya titik E.


[Penyesuaian Terhadap Keseimbangan Ketika Pasar Uang Menyesuaikan Diri Dengan Cepat. Bila pasar uang menyesuaikan diri dengan cepat, maka perekonomian selalu berada dalam keseimbangan moneter. Dalam diagram ini berarti selalu berada pada skedul LM. Bila terjadi kelebihan permintaan barang, tingkat investasi dan output akan naik, dan bila terjadi kelebihan penawaran barang, tingkat investasi dan output akan turun].
Proses penyesuaian yang di perlihatkan dalam Gambar 4-15 adalah sama dengan yang dilukiskan dalam Bab III. Kesebelah kanan kurva IS, terjadi kelebihan penawaran barang dan perusahaan ahkirnya terpaksa menimbun barang. Mereka menurunkan produksi dalam rangka mengurangi jumlah cadangan barang, dan perekonomian bergerak bergerak menuruni kurva LM. Perbedaan antara proses penyesuaian disini dengan dijelaskan dalam Bab III adalah sebagai berikut: Disini, ketika ekonomi bergerak maju tingkat pendapatan keseimbangan, dengan tingkat suku bunga yang menurun, pengeluaran investasi yang diharapkan sebenarnya mengalami kenaikan.
Sekarang dengan telah dijelaskannya permasalahan dimana ekonomi sungguh-sungguh menyesuaikan diri terhadap posisi keseimbngan, kita beralih untuk menentukan pengaruh kebijakan fiscal dan moneter terhadap suku bunga keseimbangan dan tingkat pendapatan.


























BAB III
PENUTUP

1.1  Kesimpulan
Kurva LM menunjukkan kombinasi tingkat bungan dan tingkat pendapatan yang konsisten dengan keseimbangan dalam pasar untuk keseimbangan uang riil. Kurva LM digambar untuk penawaran dari keseimbangan uang riil tertentu. Penurunan dalam penawaran dari keseimbangan uang riil menggeser kurva LM keatas. Kenaikan dalam penawaran dari keseimbangan uang riil menggeser kurva LM ke bawah.

1.2  Saran
Kita harus lebih memahami dan lebih mempelajari akan kurva LM krena kurva ini sangatlah berguna terhadap kehidupan sehari-hari terutama dalam pengaturan uang, pendapatan serta suku bunga.















DAFTAR PUSTAKA

Mankiw N Gregory. 2000.  Teori Makro Ekonomi Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta.

Dornbusch Rudiger dan Stanley Fischer. 1994. Ekonomi Makro. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Reksoprayitno Soediyono. 2000. Ekonomi Makro. BPFE Yogyakarta. Yogyakarta








[1] Permintaan akan uang uang akan diperinci dalam bab X ; di sini kita hanya akan memebahas argumentasi yang mendasari permintaan akan uang secara ringkas.
[2] Sebagaimana yang akan kita bahas dalam bab XI ; berbhan pengturan dunia keuangan pada awal dekade 1980n .
[3] Kita kembali menggunakan persamaan linear untuk menjelaskan soal hubungan.
[5] Dornbusch Rudiger dan Stanley Fischer hal 163.
[6] Ibid 164.
[7] Ibid 166.
[8] Ibid 120.

ES-E: Kemiskinan dan Kesenjangan Pendapatan


BAB I
PENDAHULUAN
            Tolak ukur suatu negara dikatakan sebagai negara maju adalah salah satunya dilihat dari jumlah pendapatan negara, presentase kesejahteraan masyarakat, tingkat harapan hidup, dll. Kesejahteraan rakyat merupakan poin penting untuk mengetahui apakah suatu negara dikatakan maju atau tidak. Namun, ada beberapa hal yang menjadi masalah yaitu rendahnya pendapatan negara, dan masalah kemiskinan, serta kesenjangan jumlah pendapatan yang sangat berpengaruh terhadap keuangan negara dan juga kesejahteraan rakyat.
            Di Indonesia, masalah-masalah tersebut merupakan penghambat dalam perekonomian Indonesia secara keseluruhan dan terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara warganegara yang kaya dengan yang miskin. Kemiskinan adalah suatu kondisi ketidakmampuan untuk memenuhi segala kebutuhan pokok, kemiskinan di Indonesia merupakan hal yang kompleks karena menyangkut beberapa aspek seperti hak untuk terpenuhinya pangan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Dan berdasarkan survei Sosial Ekonomi Nasional setiap 100 orang penduduk Indonesia terdapat 15 orang penduduk miskin.
            Kemiskinan tidak terlepas dari masalah kesenjangan pendapatan yang akhirnya berujung pada kesenjangan sosial yang berakibat pada konflik sosial. Ketimpangan yang besar dalam distribusi pendapatan (yang dimaksudkan dengan kesenjangan ekonomi) dan tingkat kemiskinan (presentase dari jumlah populasi yang hidup di bawah garis kemiskinan) merupakan dua masalah besar di banyak LDCs, tidak terkecuali di Indonesia. Di katakan besar, karena jika dua masalah ini berlarut-larut atau di biarkan akan semakin parah dampak yang akan terjadi. Pada akhirnya akan menimbulkan kosekuensi politik dan sosial yang sangat serius.
            Oleh karena itu,agar masalah kemiskinan dan kesenjangan pendapatan di Indonesia menurun perlu adanya kerjasama dari masyarakat dan pihak pemerintah untuk mengangani masalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Permasalahan Pokok.
Masalah pokok Negara berkembangè Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan distribusi pendapatan atau tingkat kemiskinan atau jumlah orang yang hidup dibawah garis kemiskinan
 





Kebijakan dan perencanaan pembangunan Orde Baru adalah pembangunan dipusatkan di Jawa (khususnya diJakarta) dengan harapan akan terjadi “Trickle Down Effect” dengan orientasi pada pertumbuhan yang tinggi.
2. Strategi Pembangunan.
Pada awal pemerintah orde baru percaya bahwa proses pembangunan ekonomi akan menghasilkan Trikle down effectè Hasil pembangunan akan menetes ke sector-sektor lain dan wialayah Indonesia lainnya.
Fokus pembangunan ekonomi pemerintahè Mencapai laju pertumbuhan ekonomi yg tinggi dalam waktu yang singkat melalui pembangunan pada:
a. Wilayah yang memiliki fasilitas yang relative lengkap (pelabuhan, telekomunikasi, kereta api, kompleks industri, dll) yakni di P. Jawa khsususnya Jawa Barat.
b.  Sektor-sektor tertentu yang memberikan nilai tambah yang tinggi.
3. Hasil strategi pembangunanè Kurang efektif.
a. 1980 – 1990è Laju pertumbuhan ekonomi (PDB) tinggi
b. Kesenjangan semakin besar (jumlah orang miskin semakin banyak)
4. Perubahan strategi pembangunan
Berdasarkan hasil pembangunan tsb, mulai PELITA 3 pemerintah merubah tujuannya menjadi mencapai pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat.
Strategiè       a. Konsentrasi pembangunan diseluruh Indonesia
                        b. Pembangunan untuk seluruh sektorè pengembangan sektor
                            pertanian melalui berbegai program seperti transmigrasi, industri
                            padat karya, industri rumah tangga

B. Kemiskinan
Menurut wikipedia.org, kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Menurut Nasikun (1995), kondisi yang sesungguhnya harus dipahami mengenai kemiskinan : “Kemiskinan adalah sebuah fenomena multifaset, multidimensional, dan terpadu. Hidup miskin bukan hanya berarti hidup di dalam kondisi kekurangan sandang, pangan, dan papan. Hidup dalam kemiskinan seringkali juga berarti akses yang rendah terhadap berbagai ragam sumberdaya dan aset produktif yang sangat diperlukan untuk dapat memperoleh sarana pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup yang paling dasar tersebut, antara lain: informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan kapital. Lebih dari itu, hidup dalam kemiskinan sering kali juga berarti hidup dalam alienasi, akses yang rendah terhadap kekuasaan, dan oleh karena itu pilihan-pilihan hidup yang sempit dan pengap”.
Kemiskinan di pahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
  • Gambaran kekurangan materi
Biasanya mencakup kebutuhan pengan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini di pahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
  • Gambaran tentang kebutuhan sosial
Termasuk keterkucilan sosial, keterganungan, dan ketidakmampuan untuk berpatisipasi dalam masyarakat.hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya di bedakan dari kemiskinan karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral dan tidak di batasi pada bidang ekonomi.
  • Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai
Makna “memadai” disini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.
Kemiskinan juga dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu :

1. Kemiskinan relative.
Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.


2. Kemiskinan absolut.
Kemiskinan Absolut adalah sejumlah penduduk yang tidak mampu mendapatkan sumberdaya yang cukup untuk memenuhi kebutuha dasar. Mereka hidup dibawah tingkat pendapatan minimum atau dibawah garis kemiskinan internasional.
Bank Dunia mendefinisikan kemiskinan absolut sebagai hidup dengan pendapatan di bawah USD $1/hari dan kemiskinan menengah untuk pendapatan di bawah $2/hari dengan batasan ini maka di pekirakan pada tahun 2011, satu miliar orang didunia mengkomsumsi kurang dari dari $1/hari dan 2,7 miliar orang di dunia mengkomsumsi kurang dari $2/hari. Proporsi penduduk negara berkembang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem telah turun dari 28% pada 1990 menjadi 21% pada 2011. Melihat pada periode 1981-2001, prosentase penduduk dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan $1/hari telah berkurang separuh. Tetapi, nilai dari $1/hari juga mengalami penurunan dalam kurun waktu tersebut.
a.Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan
Kemiskinan banyak di hubungkan dengan:
  • Penyebab individual atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin.
  • Penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga.
  • Penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari di pelajari atau di jalankan dalam lingkungan sekitar.
  • Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kemiskinan antara lain :

a. Tingkat pendidikan masyarakat yang rata-rata rendah.
b. Cara berpikir yang masih tradisional dan konservatif.
c. Apatis dan anti hal-hal baru.
d. Mentalitas dan etos kerja yang kurang baik.
e. Keadaan alam yang kurang mendukung.
f. Keterisoliran secara geografis dari pusat.
g. Tiadanya potensi atau produk andalan.
h. Rendahnya kinerja dan budaya korup aparatur pemerintah daerah.
C.                Pertumbuhan, Kesenjangan dan Kemiskinan.
Data 1970 – 1980 menunjukkan ada korelasi positif antara laju pertumbuhan dan tingkat kesenjangan ekonomi.  Semakin tinggi pertumbuhan PDB/pendapatan perkapita, semakin besar perbedaan sikaya dengan simiskin.
Penelitian di Asia Tenggara oleh Ahuja, dkk (1997) menyimpulkan bahwa selama periode 1970an dan 198an ketimpangan distribusi pendapatan mulai menurun dan stabil, tapi sejak awal 1990an ketimpangan meningkat kembali di LDC’s  dan DC’s seperti Indonesia, Thaliland, Inggris dan Swedia.
Janti (1997) menyimpulkan è semakin besar ketimpangan dalam distribusi pendapatan disebabkan oleh pergeseran demografi, perubahan pasar buruh, dan perubahan kebijakan publik. Perubahan pasar buruh ini disebabkan oleh kesenjangan pendapatan dari kepala keluarga dan semakin besar saham pendapatan istri dalam jumlah pendapatan keluarga.
Hipotesis Kuznetsè ada korelasi positif atau negatif yang panjang antara tingkat pendapatan per kapita dengan tingkat pemerataan distribusi pendapatan. 
Dengan data cross sectional (antara negara) dan time series, Simon Kuznets menemukan bahwa relasi kesenjangan pendapatan dan tingkat pendapatan perkapita berbentuk U terbalik.
Tingkat Kesenjangan



Periode
Tingkat Pendapatan Per Kapita
Hasil ini menginterpretasikan: Evolusi distribusi pendapatan dalam proses transisi dari ekonomi pedesaan ke ekonomi perkotaan (ekonomi industri) è Pada awal proses pembangunan, ketimpangan distribusi pendapatan naik sebagai akibat proses urbanisasi dan industrialisasi dan akhir proses pembangunan, ketimpangan menurun karena sektor industri di kota sudah menyerap tenaga kerja  dari desa atau produksi atau penciptaan pendapatan dari pertanian lebih kecil.
Banyak studi untuk menguji hipotesis Kuznets dengan hasil:
a.    Sebagian besar mendukung hipotesis tersebut, tapi sebagian lain menolak
b.   Hubungan positif pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan hanya dalam jangka panjang dan ada di DC’s
c.    Kurva bagian kesenjangan (kiri) lebih tidak stabil daripada porsi kesenjangan menurun sebelah kanan.

Deininger dan Squire (1995) dengan data deret waktu mengenai indeks Gini dari 486 observasi dari 45 LDC’s dan DC’s (tahun 1947-1993) menunjukkan indeks Gini berkorelasi positif antara tahun 1970an dengan tahun 1980an dan 1990an.
Anand dan Kanbur (1993) mengkritik hasil studi Ahluwalia (1976) yang mendukung hipotesis Kuznets. Keduanya menolak hipotesis Kuznets dan menyatakan bahwa distribusi pendapatan tidak dapat dibandingkan antar Negara, karena konsep pendapatan, unit populasi dan cakupan survey berbeda.
Ravallion dan Datt (1996) menggunakan data India:
§  proxy dari pendapatan perkapita dengan melogaritma jumlah produk domestik (dalam nilai riil) per orang (1951=0)
§  proxy tingkat kesenjangan adalah indeks Gini dari konsumsi perorang (%)
Hasilnya menunjukkan tahun 1950an-1990an rata-rata pendapatan perkapita meningkat dan tren perkembangan tingkat kesenjangan menurun (negative).
Ranis, dkk (1977) untuk China menunjukkan korelasi negative antara pendapatan dan kesenjangan.
D.                Hubungan Antara Perumbuhan Dan Kemiskinan
Pada tahap awal dari proses pembangunan, tingkat kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir dari pembangunan, jumlah orang-orang miskin berangsur-angsur berkurang. Banyak faktor-faktor lain selain pertumbuhan pendapatan yang juga berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di suatu wilayah/negara, seperti derajat pendidikan tenaga kerja dan struktur ekonomi.
Dalam persamaan relasi antara pertumbuhan output agregat dan kemiskinan, elastisitas dari ketidak merataan dalam distribusi pendapatan terhadap pertumbuhan pendapatan adalah suatu komponen kunci dari perbedaan antara efek bruto(ketimpangan konstan) dan efek neto (ada efek dari perubahan ketimpangan) dari pertumbuhan pendapatan terhadap kemiskianan. Dalam kata lain,kemiskinan tidaka hanya berkorelasi dengan pertumbuhan output agregat atau PDB atau PN, tetapi juga denagn pertumbuhan output di sektor-sektor ekonomi secara individu.
Hipotesis Kuznets: Pada tahap awal pembangunan tingkat kemiskinan meningkat dan pada tahap akhir pembangunan tingkat kemiskinan menurun.
Faktor yang berpengaruh pada tingkat kemiskinan:
a)      Pertumbuhan
b)      Tingkat pendidikan
c)      Struktur ekonomi

Wodon (1999) menjelaskan hubungan pertumbuhan output dengan kemiskinan diekspresikan dalam:
Log Gkt = α + βLog Wkt + αt + ∑kt
Dimana:
·         Gkt : Indeks gini untuk wilayah k pada periode t
·         Wkt : Rata-rata konsumsi/pendapatan riil (rasio kesejahteraan) diwilayah k pada periode t
·         αt         : Efek lokasi yang tetap
·         kt : Term kesalahan

Dalam persamaan tersebut, elastisitas ketidakmerataan distribusi pendapatan terhadap pertumbuhan merupakan komponen kunci dari perbedaan antara efek bruto (ketimpangan konstan) dan efek neto (efek dari perubahan ketimpangan) dari pertumbuhan pendapatan terhadap kemiskinan.
·         g : efek bruto (ketimpangan konstan)
·         l :  efek neto (efek dari perubahan ketimpangan)
·         b : elatisitas ketimpangan terhadap pertumbuhan
·         d : elastisitas kemiskinan terhadap ketimpangan
 


maka,
Λ = γ + βδ
Elatisitas ketimpangan terhadap pertumbuhan dan elastisitas kemiskinan terhadap ketimpangan diperoleh dengan persamaan:
Log Pkt = w + Log Wkt + Log Gkt + wk + vkt
Dimana:
·         Pkt : Kemiskinan diwilayah k pada periode t
·         Gkt : Indeks gini untuk wilayah k pada periode t
·         Wkt : Rata-rata konsumsi/pendapatan riil (rasio kesejahteraan)
diwilayah k pada periode t
·         Wk : efek-efek yang tetap
·         vkt :term kesalahan
Studi empiris di LDC’s menunjukkan ada korelasi yang kuat antara pertumbuhan ekonomi dengan kemiskinan. Studi lain menunjukkan bahwa kemiskinan berkorelasi dengan pertumbuhan output (PDB) atau Pendapatan nasional baik secara agregat maupun disektor-sektor ekonomi secara individu.
a)      Ravallion dan Datt (1996) dengan data dari India menemukan bahwa pertumbuhan output disektor-sektor primer khususnya pertanian jauh lebih efektif terhadap penurunan kemiskinan dibandingkan dengan sector sekunder.
b)      Kakwani (2001) untuk data dari philipiana menunjukkan hasil yang sama dengan Ravallion dan Datt. Peningkatan output sektor pertanian 1% mengurangi jumlah kemiskinan 1% lebih sedikit. Peningkatan output sektor industri 1% mengurangi jumlah kemiskinan 0,25 saja.
c)      Mellor (2000) menjelaskan ada tendensi partumbuhan ekonomi (terutama pertanian) mengurangi kemiskinan baik secara mangsung maupun tidak langsung.
d)     Hasan dan Quibria (2002) menyatakan ada hubungan antara pertumbuhan dengan kemiskinan
e)      ADB (1997) untuk NIC’s Asia Tenggara (Taiwan, Korsel, dan Singapura) menunjukkan pertumbuhan output di sector industri manufaktur berdampak positif terhadap peningkatan kesempatan kerja dan penurunan kemiskinan
f)       Dolar dan Kraay (2000) menunjukkan elastisitas pertumbuhan PDB (pendapatan) perkapita dari kelompok miskin adalah 1%  (pertumbuhan rata-rata 1% meningkatkan pendapatan masyarakat miskin 1%).
g)      Timmer (1997) menyimpulkan bahwa elastisitas pertumbuhan PDB (pendapatan) perkapita dari kelompok miskin adalah 8% artinya kurang dari proporsional keuntungan bagi kelompok miskin dari pertumbuhan ekonomi

Untuk mengukur pengaruh pertumbuhan sektoral terhadap tingkat kemiskinan digunakan:
Ln P= a + b1 Ln Y1 + b2 Ln Y2 + b3 Ln Y3 + u + R
Dimana:
P : Fraksi dari jumlah populasi dengan pengeluaran konsumsi dibawah pengeluaran minimum yang telah ditetapkan sebelumnya (garis kemiskinan)
Y : Tingkat output per kapita untuk sector pertanian, inustri pengolahan, dan jasa
u dan R:term kesalahan
·         Indikator Kesenjangan dan Kemiskinan
Cara untuk mengukur tingkat kesenjangan dalam distribusi pendapatan dengan:
1.   Pendekatan Asiomatic mencakup:

a)   The Generalied Entropy (GE)

GE( ) = (1/(α2-α)
n=jumlah individu/orang dalam sampel
yi=pendapatan individu (i=1,2,…n)
 = (1/n) adalah ukuran rata-rata pendapatan
Nilai GE terletak 0 sampai ∞. Nilai GE 0 berarti distribusi pendapatan merata dan GE bernilai 4 berarti kesenjangan yang sangat besar.
α = mengukur besarnya perbedaan antara pendapatan dari kelompok yang berbeda didalam distribusi tersebut dan mempunyai nilai riil


b)  Ukuran Atkinson

A = 1 -

ϵ=parameter ketimpangan, 0<ϵ<1, semakin tinggi nilai ϵ, semakin tidak seimbang pembagian pendapatan.
Nilai α dari 0 sampai 1. Nilai 0 berarti tidak ada ketimpangan dalam distribusi pendapatan
c)   Koefisien Gini
Gini = (1/2n2-
Nilai koefisien Gini dari 0 sampai 1. Nilai 0 berarti kemerataan sempurna dan nilai 1 berarti ketidakmerataan sempurna (satu orang/kelompok orang disuatu Negara menikmati semua pendapatan Negara).
Ide dasar perhitngan koefisien Gini adalah Kurva Lorenz
Kurva Lorenz menggambarkan distribusi komulatif pendapatan nasional diberbagai lapisan penduduk.  Sumbu vertical è presentase komulatif pendapatan nasional & Sumbu horizontal è  persentase komulatif penduduk.
                     a.  Semakin dekat dg diagonal,        100     
               semakin merata pendapatan         
                                                                    
b. Semakin jauh dg diagonal            50
                   semakin tidak merata pendapatan
                                               
                                                            0
                                                                       
                                                                     10                    50                 100
Indeks/Rasio Gini merupakan koefisien yang berkisar 0 sampai 1, yang menjelaskan kadar ketimpangan distribusi pendapatan nasional.
v  Semakin kecil angka ini, semakin merata distribusi pendapatan
v  Semakin besar angka ini, semakin tidak merata distribusi pendapatan
Angka Gini ini dapat ditaksir secara visual langsung dari kurva Lorenz. Semakin kecil angka ini ditunjukkan kurva lorenz yang mendekati diagonal yang berarti kecil luas area dan sebaliknya.
             n
G = 1 - ∑  ( X t+1 – Xi ) ( Yi + Y t+1)
             1
             n
G = 1 - ∑ fi (Yi + Y t+1)
             1
G = Rasio Gini
fi  = Proporsi Jumlah Rumah Tangga dalam kelas t
Xi = Proporsi Jumlah Komulatif Rumah Tangga dalam kelas t
Yi = Proporsi Jumlah Komulatif Pendapatan dalam kelas t
2.   Kriteria Bank Dunia.
      Bank dunia mengklasifikasikan ketidakmerataan berdasarkan tiga lapisan:
v  40 % penduduk berpendapatan terendahè Penduduk termiskin
v  40 % penduduk berpendapatan menengah
v  20 % penduduk berpendapatan tinggi

KLASIFIKASI
DISTRIBUSI PENDAPATAN
Ketimpangan Parah
40 % penduduk berpendapatan rendah menikmati < 12 % pendapatan nasional
Ketimpangan Sedang
40 % penduduk berpendapatan rendah menikmati 12 - 17 % pendapatan nasional
Ketimpangan Lunak (Distribusi Merata)
40 % penduduk berpendapatan rendah menikmati > 17 % pendapatan nasional
Pertengahan tahun 1997 Pendapatan per kapita Indonesia $ US 1,000 dengan 10 % penduduk saja yang menikmati  90% pendapatan nasional dan 90 % penduduk yang menikmati  10% pendapatan nasional berarti pemerataan pendapatan pendapatan masih kurang.
Perbandingan Indonesia dengan Swiss
Text Box: Komulatif % 
Pendapatan Nasional 






            Indonesia                                                        Swiss
Rasio Angka Gini.
Tahun
Kota
Desa
Nasional
1965
0,34
0,35
0,35
1970
0,33
0,34
0,35
1976
0,35
0,31
0,34
1978
0,38
0,34
0,40
1980
0,36
0,31
0,34
1981
0,33
0,29
0,33
1984
0,32
0,28
0,33
1986
0,32
0,27
0,33
1987
0,32
0,26
0,32
1990
0,34
0,25
0,32
1993
0,33
0,26
0,34
1994
0,34
0,26
0,34
1995
0,35
0,27
0,35
1996
0,35
0,27
0,36
1997
0,35
0,26
0,37

v  Tahun 1065 – 1970 laju rata-rata pertahun PDB 2,7 % dengan angka Gini rat-rata per tahun 0,35
v  1971 – 1980 laju rata-rata pertahun PDB 6 % dengan angka Gini rat-rata per tahun 0,4
v  Tahun 1065 – 1970 laju rata-rata pertahunPDB 2,7 % dengan angka Gini rat-rata per tahun 0,35
v  1981 – 1990 laju rata-rata pertahun PDB 5,4 % dengan angka Gini rat-rata per per tahun 0,3

Foster (1984) memperkenalkan 3 indikator untuk mengukur kemiskinan:
a)      The incidence of poverty (rasio H) yaitu % dari populasi yang hidup adlam keluarga dengan pengeluaran konsumsi perkapita dibawah garis kemiskinan
b)      The depth of poverty yaitu menggambarkan dalamnya kemiskinan disuatu wilayah yang diukur dengan Poverty Gap Index / indeks jarak kemiskinan (IJK) yaitu mengestimasi jarak pendapatan orang miskin dari garis kemiskinan sebagai proporsi dari garis tersebut.

Pa = (1/n) a untuk semua yi<z
Indeks Pa sensitive terhadap distribusi, jika a>1.
= perbedaan antara garis kemiskinan (z) dan tingkat pendapatan dari kelompok ke I keluarga miskin (yi) dalam bentuk % dari garis kemiskinan.
a=% eksponen dari besarnya pendapatan yang tekor dan jika dijumlahkan dari semua orang miskin dan dibagi dengan jumlah populasi, maka akan menghasilkan indeks Pa.

c)      The severity of poverty/Distributionally Sensitive Index yaitu mengukur tingkat keparahan kemiskinan dengan indeks keparahan kemiskinan (IKK) atau mengetahui intensitas kemiskinan.
Peneliti lain memasukkan 2 faktor lain yakni rata-rata besarnya kekurangan pendapatan orang miskin dan besarnya ketimpangan dalam distribusi pendapatan antar orang miskin. Semakin rata-rata besarnya kekurangan pendapatan orang miskin, semakin besar gap pendapatan antar orang miskin sehingga kemiskinan bertambah besar. Dengan memasukkan 2 faktor tersebut, maka muncul Indeks Kemiskinan Sen:
S = H [I + (1-I)Gini]
 I adalah jumlah rata-rata difisit pendapatan dari orang miskin sebagai % dari garis kemiskinan.
Koefisien Gini mengukur ketimpangan antar orang miskin.
Jika salah satu factor ini naik, maka kemiskinan meningkat.
Perubahan pola distribusi pendapatan dipedesaan disebabkan oleh:
a)   Urbanisasi jaman ordebaru sangat pesat
b)   Struktur pasar dan besar distorsi yang berbeda antara kota dan desa. Desa memiliki jumlah sektor, output per sektor, dan pendapatan perkapita lebih kecil daripada kota.
c)   Dampak positif pembangunan nasional yang berbentuk: (a) berbagai kegiatan ekonomi di desa (perdagangan, industry dan jasa); (b) Produksitivitas dan pendapatan TK pertanian dan penggunaan teknologi pertanian meningkat; dan (c) pemanfaatan SDA yang lebih baik di desa.

Perubahan tingkat upah (W) di desa dan kota dalam rupiah per bulan.
Tahun
Kota
Desa
Rasio D/K
1986
Rp 88.073
Rp 59.237
67
1990
115.835
66.395
57
1997
288,498
186.753
65

Bukti empiris hipotesis U terbalik di Indonesia tahun 1960an sampai 1990an
 









Distribusi dari 1,2 milyar penduduk miskin di dunia yang hidup dengan pendapatan kurang dari US1 per hari tahun 1998.

Europe and central Asia
2%
Middle East and North Africa
0.50%
South Asia
43.50%
Latin America and The Caribbean
6.50%
East Asia and Pasific
23.20%
Africa -SubSaharan
24.30%

Sumber: World Bank
Perubahan tingkat kemiskinan dan GDP per kapita di Asia.

Negara
Kemiskinan
Perubahan Tahunan
Tahun
%
Tahun
%
Kemiskinan per kapita
PDB Riil
Bangladesh
1992
58,8
1996
53,1
-2,5
3,1
Cina
1994
8,4
1996
6
-15,5
10,5
India
1992
40,9
1994
35
-7,5
3,3
Indonesia
1990
15,1
1996
15,7
0,6
6,2
Korsel
1994
16,4
1995
12,3
-25
7,3
Malaysia
1995
9,6
1997
6,8
-15,8
4,2
Pakistan
1993
22,4
1997
31
8,5
1,5
Philipina
1994
40,6
1997
36,8
-3,2
2,6
Taiwan
1996
0,5
1997
0,5
0
5,3
Thailand
1994
16,3
1996
11,4
-16,4
7,7
Vietnam
1996
19,2
1997
17,7
-8
7,4

E.                 Distribusi Pendapatan
Studi-studi mengenai distribusi pendapatan di Indonesia pada umumnya menggunakan data BPS mengenai pengeluaran konsumsi rumah tangga dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).
Demikian pula pengertian pendapatan yang artinya pembayaran yang di dapat karena bekerja atau menjual jasa tidak sama dengan pengertian kekayaan. Kekayaan seseorang bisa jauh lebih besar dari pada pendapatannya.
Boleh dikatakan bahwa baru sejak akhir 1970-an pemerintah Indonesia ulai memperlihatkan kesungguhan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sejak saat itu aspek pemerataan dalam trilogi pembangunan semakin di tekankan dan ini diidentifikasikan dalam delapan jalur pemerataan, sudah banyak program-program dari pemerintah pusat hingga saat ini mencerminkan upaya tersebut seperti:
a)      Program serta kebijakan yang mendukung pembangunan industri kecil
b)      Rumah tangga dan koperasi
c)      IDT
d)     Program keluarga sejahtera
e)      Program keluarga berencana (kb)
f)       Program makanan tambahan bagi anak sekolah dasar
g)      Program transmigrasi
h)      Peningkatan UMR atau provinsi (UMP)
i)        Jaringan pengamana sosial yang di sponsori bank dunia
Secara teoritis perubahan pola distribusi pendapatan di perdesaan di sebabkan oleh faktor-faktor berikut:
1.      Akibat arus penduduk/L dari perdesaan ke perkotaaan yang selama Orde Baru berlansung sangat pesat.
2.      Struktur pasar dan besarnya distoris yang berbeda di perdesaan dengan perkotaan.
3.      Dampak positif dari proses pembanguan ekonomi nasional diantaranya:
a.       Semakin banyaknya kegiatan-kegiatan ekonomi di perdesaan di luar sektor pertanian seperti industri manufaktur.
b.      Tingkat produktivitas dan pendapatan (dalam nilai riil) L di sektor pertanian meningkat.
c.       Potensi SDA ( sumber daya alam) yang ada di perdesaan semakin baik karena di manfaatkan oleh penduduk desa (pemakain semakin optimal) 
Tingkat kesenjangan distribusi pendapatan diIndonesia dapat juga di ukur dengan metode Bank Dunia, yakni membagi jumlah populasi ke dalam tiga kelompok yakni:
  • 40%  berpedapatan rendah
  • 40%  berpendapatan menengah
  • 20 %  berpendapatan tinggi
Kelompok pertama adalah bagian dari populasi terkaya sedangkan kelompok ke tiga adalah bagian dari populasi termiskin dan kelompok kedua sering di sebut/ dikatakan sebagai masyarakat kelas menengah.
Di Indonesia kemiskinan merupakan salah satu masalah besar. Terutama melihat kenyataan bahwa laju penguranag jumlah orang miskin di tanah air bedasarkan garis kemiskinan yang berlaku jauh lebih lambat dibandingkan laju perekonomian pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu sejak PELITA I hingga 1997( sebelum krisi ekonomi).

F.                 Kebijakan untuk Menanggulangi Kemiskinan
Hubungan antara pertumbuhan ekonomi, kebijakan, kelembagaan dan penurunan kemiskinan disajikan dan gambar berikut ini.
 







Kebijakan lembaga dunia mencakup World Bank, ADB, UNDP, ILO, dsb.
World bank (1990) peprangan melawan kemiskinan melalui:
a)   Pertumbuhan ekonomi yang luas dan menciptakan lapangan kerja yang padat karya
b)   Pengembangan SDM
c)   Membuat jaringan pengaman social bagi penduduk miskin yang tidak mampu memperoleh dan menikmati pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja serta pengembangan SDM sebagai akibat dari cacat fisik dan mental, bencana, konflik social atau wilayah yang terisolasi

World bank (2000) memberikan resep baru dalam memerangi kemiskinan dengan 3 pilar:
a)   Pemberdayaan yaitu proses peningkatan kapasitas penduduk miskin untuk mempengaruhi lembaga-lembaga pemerintah yang mempengaruhi kehidupan mereka dengan memperkuat partisipasi mereka dalam proses politik dan pengambilan keputusan tingkat local.
b)   Keamanan yaitu proteksi bagi orang miskin terhadap goncangan yang merugikan melalui manajemen yang lebih baik dalam menangani goncangan ekonomi makrodan jaringan pengaman yang lebih komprehensif
c)   Kesempatan yaitu proses peningkatan akses kaum miskin terhadap modal fisik dan modal manusia dan peningkatan tingkat pengembalian dari asset asset tersebut.

ADB (1999) menyatakan ada 3 pilar untuk mengentaskan kemiskinan:
a)   Pertumbuhan berkelanjutan yang prokemiskinan
b)   Pengembangan social yang mencakup: pengembangan SDM, modal social, perbaikan status perempuan, dan perlindungan social
c)   Manajemen ekonomi makro dan pemerintahan yang baik yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan
d)  Factor tambahan:
·      Pembersihan polusi udara dan air kota-kota besar
·      Reboisasi hutan, penumbuhan SDM, dan perbaikan tanah

Strategi oleh pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan:
a)   Jangka pendek yaitu membangun sector pertanian, usaha kecil dan ekonomi pedesaan
b)   Jangka menenga\h dan panjang mencakup:
·      Pembangunan dan penguatan sector swasta
·      Kerjasama regional
·      Manajemen APBN dan administrasi
·      Desentralisasi
·      Pendidikan dan kesehatan
·      Penyediaan air bersih dan pembangunan perkotaan
·      Pembagian tanah pertanian yang merata







BAB III
KESIMPULAN

            Dari uraian tentang kemiskinan dan kesenjangan pendapatan di Indonesia dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu :
1.              Kemiskinan dan kesenjangan pendapatan merupakan masalah pokok yang dihadapi oleh banyak negara dalam lingkup perekonomian, namun juga dapat mengakibatkan masalah dalam lingkup politik maupun sosial.
2.              Di Indonesia terjadi ketimpangan yang sangat mencolok antara orang kaya dan miskin, oleh karena itu diperlukan kebijakan-kebijakan agar pembangunan di Indonesia bisa merata.
3.              Kemiskinan dapat ditanggulangi jika para aparatur negara dan juga masyarakat mampu berkerjasama dalam menanggulangi kemiskinan agar tercipta sebuah negara yang adil, makmur, dan sejahtera.

















DAFTAR PUSTAKA

Norman, Gemmel. Ilmu Ekonomi Pembangunan. Jakarta: PT Pustaka LP3ES, 1994.
http://cynthiaprimadita.blogspot.com/2011/03/bab-i-pembahasan.html
id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan
http://nissakfh.wordpress.com/2011/03/17/kemiskinan-dan-kesenjangan-pendapatan-23210895/






Komentar

HTML Comment Box is loading comments...